Qaddarallahu wa maa syaa’a fa’ala

Saat ini aku tengah menjalani masa bedrest ku

Setelah aku merasa kehilangan yang mendalam..

 

22 Agustus 2016

Yanuar Falak Abiyunus

Sosok kakak kelas jaman SMA, gak kenal lebih dari tau bahwa dia pintar fisika

Malam itu di sabang, kami bertemu

Dia menyampaikan maksudnya untuk mendekati aku dan dia tau bahwa aku bukan orang yang akan mempersilahkan siapa saja, jika tidak jelas ujungnya kemana. Pun aku tidak akan setia selain pada suamiku nanti. Itu artinya, apapun yang akan terjadi setelah malam ini, aku masih belum milik siapa2.

Oya, dia juga menceritakan bagaimana dia “diarahkan” oleh keluarganya untuk mencari pendamping yang sesuai kriteria mereka. Termasuk berjarak umur 5 tahun.

Aku dan dia, seumur 🙂

Well, saat itu aku sedang fokus dengan perpindahanku ke lembaga pemerintahan dan kisah cinta pertamaku selama 7th masih mendominasi, cukup bagiku menjadi alasan untuk tidak memikirkan pernikahan dalam waktu dekat.

Tapi Allah Maha Pembolak-balik hati.

Aku yakin bahwa dia adalah yang aku cari.

 

25 Desember 2016

Untuk pertama kalinya aku dipertemukan dengan keluarga dia. Setengah takut ditolak, aku hadir di tengah keluarga yang baru aku kenal. Alhamdulillah lancar.

 

01 Januari 2017

Khitbah pun dilaksanakan.

 

20 Mei 2017

Setelah sekian banyak cobaan yang menggoda kami untuk tidak melanjutkan ke “ibadah terpanjang” yakni pernikahan, akhirnya ijab qabul pun dilaksanakan. Dia, selalu menyakinkan aku, dan berhasil membuat aku jatuh cinta.

Well, aku baru merasakan jatuh cinta ketika saksi menyatakan bahwa pernikahan kami sah.

Jujur, pernikahan ini sebuah kenekatan yang aku ambil.

Aku belum merasakan lagi apa itu cinta, setelah 2 tahun terakhir aku mencoba untuk mencintai diriku sendiri.

Pendidikan ku di lembaga pemerintahan belum selesai, masih banyak ujian, tugas-tugas, bahkan penempatan pun belum jelas.

Tabunganku habis untuk melunasi hutang kendaraanku di kantor lama dan menghidupiku selama masa pendidikan.

Dan yang pasti, aku belum sempat mendefinisikan perasaanku padanya.

Tapi aku bilang “iya” ketika dia mengkhitbahku.

Sejak hari pertama menjadi seorang istri, aku baru merasakan jatuh cinta lagi.

Meskipun tak sekali aku menangis karena merasa banyak ketidaksesuaian yang terjadi antara kami, tapi dia selalu meyakinkanku bahwa kesamaan kami pun banyak.

Dia bilang, supaya pernikahan itu ibadah, kalau menemukan kelebihan pada pasangan maka bersyukur, kalau menemukan kelemahan pada pasangan maka bersabar. Aku setuju.

 

21 Juli 2017

Dokter memberi kami selamat karena aku tengah hamil usia 5 minggu. Sebelum menikah, aku menjalani tes TORCH dengan hasil positif. Tapi hari itu, kami benar-benar bahagia karena tes TORCH kami ulang dengan hasil negatif.

 

05 Agustus 2017

Kaget, ternyata janin yang ada dalam rahimku kembar. Padahal tidak ada keturunan ataupun program yang kami jalani. Dokter memberikan selamat lagi kepada kami sekaligus menjelaskan risiko kehamilan kembar.

 

06 September 2017

Dalam usia kehamilan 13 minggu, aku sudah 2 kali menjalani bedrest karena pendarahan.

Ternyata, salah satu janin kami menderita kelainan kromosom yang bukan karena TORCH, tapi karena sebab yang hanya diyakini sebagai tanda kebesaran Allah SWT. Dokter bilang kesempatan hidupnya sangat kecil, tidak akan bertahan lama, tidak bisa diintervensi. Idealnya janin ini dikeluarkan, tapi karena saah satu janin msih sehat, harus kami pertahankan.

Hari itu aku hancur luar biasa.

Dia, yang selalu menguatkan aku, semua perkataannya bagai petunjuk yang Allah sampaikan langsung padaku, menyejukkan.

Dia bilang, Allah sedang menunjukkan kuasaNya, Dia bisa memberi kita 2 keturunan sekaligus dan tiba-tiba mengambilnya salah satu atau bahkan keduanya.

Dia memintaku untuk ikhlas dan bersabar, karena masih ada satu janin sehat yang harus tetap aku jaga.

Tapi kehancuran hatiku mempengaruhi psikologis hingga semakin lama aku semakin egois.

Dia mencuci baju, mencuci piring, mencari makan untukku, pergi berbelanja bulanan untuk memenuhi asupan gizi sekaligus selera makanku, mengantar jemputku ke kantor, memijat punggungku sebelum tidur, menyiapkan obatku, menyuapiku madu, membersikan buang airku di pispot, mengepel lantai bekas muntahku, dan masih banyak lagi hal-hal ajaib yang dia lakukan. Sementara aku hanya terbaring di tempat tidur karena egoisku ingin mengistirahatkan kedua janinku. Pikiranku penuh oleh kekhawatiran bagaimana caraku menjaga calon anak-anak kami.

 

28 September 2017

Aku menjalani bedrest di rumah sakit setelah pendarahanku yang keempat (lagi-lagi pendarahan ini belum bisa dibuktikan secara medis apa penyebabnya, wallahu alam)

Pagi nya bidan mengunjungiku untuk mengecek detak jantung kedua anak kami.

Aku kesal setelah satu hari dirawat tak satupun dokter berkunjung sementara aku tidak boleh ditemani keluarga.

Siangnya aku meminta pulang dan USG terlebih dahulu.

Hari itu, dokter kaget karena salah satu janinku telah meninggal.

Bukan yang harapan hidupnya kecil, melainkan yang awalnya sehat, yang menjadi alasan kenapa kandungan ini masih kami pertahankan.

Aku tidak bisa menangis, semuanya mati rasa, aku menelpon dia agar segera pulang karena hanya bersamanya aku bisa mencurahkan apa yang aku rasakan.

 

01 Oktober 2017

Aku telah 2 hari dirawat di rumah sakit berbeda untuk diberikan induksi agar bisa melahirkan kedua janinku secara normal. 36 jam pertama aku tidak merasakan sakit yang hebat selain ketika perawat memasukkan obatku melalui jalan lahir. Sudah 2 malam aku dan suamiku terjaga karena kram perut yang aku rasakan. Hingga akhirnya 5 jam terakhir aku begitu kesakitan.

Aku tau, dia tidak pernah menangis selain pada saat dilahirkan dan cek buku rekening (itu lelucon dia)

Tapi aku melihatnya hampir menangis saat aku menatap matanya tanpa bisa berkata apa-apa selain istighfar dan takbir yang dia pandu untukku. Sakit yang belum pernah aku rasakan ini sangat hebat.

Maasya Allah, pukul 03.00 aku melahirkan kedua janinku yang telah tiada dengan normal dan mudah. Satu janin yang kelainan kromosom lahir dengan ukuran lebih besar dan keluar dengan keinginannya sendiri. Satu janin yang telah meninggal 3 hari lalu, lahir dengan sedikit mengejan tanpa sakit apapun.

Aku hanya menatap dia dan mendengar apa yang ia perintahkan.

Aku tidak lagi mengenali suara perawat atau petugas di ruang bersalin tersebut.

Yang aku lihat, hanya dia.

Alhamdulillah segala sakit hilang seketika kedua janin dikeluarkan.

Aku mampu berdiri setengah jam setelah melahirkan dan kondisi tubuhku normal kembali.

Ternyata janin yang awalnya sehat, meninggal karena plasenta terpilin sehingga oksigen tidak bisa masuk untuk memenuhi pekembangannya.

Subhanallah, tidak terduga, Allah menunjukkan kembali kuasaNya pada kami.

 

04 Oktober 2017

Hari ini aku baru sadar, fisik ku segar namun batinku baru merasa kehilangan.

Dia pergi ke tempat pendidikannya dan aku merasa sendiri.

Aku merasa bukan menjadi diriku sendiri.

Aku merasa bersalah pada semua orang yang telah berkorban untukku.

Aku merasa tidak berguna bagi siapapun.

Aku merasa tidak pantas menerima semua kebaikan dia, keluarga dan orang-orang di sekitarku.

Bukan hanya kehilangan 2 anak sekaligus yang membuat aku seperti tak lagi memiliki jiwa dan semangat hidup, melainkan rasa menyesalku telah menyia-nyiakan waktuku selama ini untuk hal yang tak baik.

Aku belum menjadi istri yang baik yang bisa menyiapkan sarapan dan pakaian suami

Aku sering mengeluhkan rasa sakit akibat kehamilan pertama ku bahkan sering bertanya apakah aku sudah sayang pada janinku yg belum terlihat ini? Aku hanya berusaha menjaga mereka karena menurutku itu kewajiban.

Aku pun menutupi kehamilanku selama 1 bulan sebelum resmi diangkat menjadi karyawan tetap, karena seharusnya aku tidak boleh hamil sebelum pengangkatan.

Allahu Akbar

Aku kini merasa begitu terpukul.

Aku merasa sangat mencintai suamiku dan kedua anakku yang telah tiada, ketika mereka tak disisiku saat ini.

Aku rasa, ini cara Allah menegurku. Menyadarkanku bahwa aku telah mencintai mereka, tapi selama ini aku menyia-nyiakannya.

Dan insya Allah aku akan menjadi pribadi yang lebih baik, mengedepankan kewajibanku sebagai seorang istri dan membuang jauh sifat egoisku.

Ya Allah, aku siap untuk hamil lagi dan melahirkan secara normal.

Aku ingin menjadi seorang istri dan ibu yang bisa mendekatkan keluarga menjadi calon penghuni surga, insya Allah

 

About 3daysto3years

Perhaps it had something to do with how i looked at life. Lihat semua pos milik 3daysto3years

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout /  Ubah )

Foto Google

You are commenting using your Google account. Logout /  Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout /  Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout /  Ubah )

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini: